Sampah For Life

KKN Ku Asyik 09 Agustus 2019 22:56:07 WIB

Oleh : Badawi Widiyali

Setelah mendapatkan sosialisasi terkait pemanfaatan sampah sintetis. Tepat hari jum'at pagi, tanggal 9 Agustus ibu-ibu desa Mlinjon mendapatkan pelatihan langsung dari pakarnya. Namanya bu Luda, beliau sendiri adalah asli orang Trenggalek. Selayaknya tamu, teman-teman KKN pun meminta putri asli daerah untuk juga berkontribusi bagi tanah kelahirannya. Terutama dalam mengampanyekan manfaat sampah sintetis.

Hingga saat ini beliau aktif menjadi aktivis lingkungan dan kesehatan bayi. Dari kontribusinya di dunia tersebut, menjadikan beliau sering di undang untuk memberikan materi dan pelatihan mengenai pemanfaatan sampah sintetis, dari ibu-ibu PKK sampai komunitas pemerhati lingkungan. Bagi beliau kegiatan tersebut merupakan wujud syukur dan pengabdian terhadap pemberian Tuhan berupa ketrampilan mengolah sampah sintetis, karena ilmu tidak untuk di perjual belikan, tutur beliau.

Tepat pukul 8 pagi pelatihan pun mulai di buka. Untuk hari ini, fokus terhadap pembuatan kerajinan itu sendiri. Harapannya berupa tas belanja dan tas untuk acara perkawinan. Alasannya Tas merupakan alat wajib yang harus dimiliki ibu-ibu untuk menemannyai di setiap momen indah. Seperti ke pasar maupun ke pesta perkawinan teman. Jadinya alat ini harus ada di list kebutuhan kaum hawa.

Pelatihan di mulai dengan membersihkan plastik bekas kopi instan, sebelumnya kulit kopi sudah dipersiapkan oleh teman-teman KKN. Tetapi ada sebagian ibu-ibu yang membawa bekas kopi dari rumah. Bisa jadi  yang di bawa merupakan bekas dari kopi milik suaminya dan mie instan keluarga. Itu lebih dari cukup, kerena kulit kopi yang dibutuhkan untuk membuat tas lumayan banyak. Hehehe

Rata-rata kulit kopi berasal dari pabrikan ternama, dari logo tersebut nantinya akan menghasilkan pola untuk bahan dasar. Memanfaatkan teori lipatan dari setiap bungkus tadi sesuai yang di harapkan. Seperti mencari huruf merek kopi sampai logo kopi. Dari situ kemudian di gabung dan di tata sesuai pola yang diinginkan.

Tentunya proses ini membutuh ketelatenan dan konsentrasi tinggi dalam menggabungkan lipatan tadi. Dengan cara dilipat dan digabungkan membentuk pola seperti kitiran. Dari kitiran nantinya akan di gabungkan dengan lipatan tadi, agar membentuk tas yang diinginkan. Jadinya pola penggabitan atau penguncian menjadi hal penting yang harus dipelajari, karena gabungan itu bisa melekat karena proses tadi. Mengingat membuat kerajinan ini tidak membutuhkan lem, melainkan kuncian di setiap polanya.

Bu Luda sebagai pemateri selalu mengingatkan untuk mengerti dan memahami proses awal dalam membentuk pola tadi, karena satu proses awal dengan langkah selanjutnya akan saling terkait satu sama lainnya. Jadinya mengingat dan konsentrasi menjadi modal awal untuk belajar dalam tahap ini. Agar nantinya tidak salah kaprah dan gagal paham di langkah-langkah selanjutnya. Lebih jauh tidak akan membentuk tas, melainkan membentuk candaan. Dan hal ini terjadi saat pelatihan.

Pelatihan yang di hadiri kurang lebih 20 an ibu-ibu desa Mlinjon terlihat sangat menyenangkan. Hal ini terbukti dari acara pelatihan yang terlihat cair dan hujan tawa dalam setiap prosesnya. Bu Luda sendiri sebagai pemateri menjelaskan dengan sedikit candaan, jadinya pelatihan sama seperti tempat bermain dan kaya akan pengalaman baru. Dan itu disampaikan ibu Luda, untuk menyemangati ibu-ibu desa Mlinjon.

Walaupun lagi menjalankan puasa Tarwiyah, tidak mengurangi semangat ibu-ibu dalam belajar membuat tas. Terlihat tangan kecil ibu-ibu desa Mlinjon terambil dalam membuat dan menggabung di setiap prosesnya. Tidak hanya praktek, terkadang juga di sisipi materi oleh bu Luda. Dengan pendekatan tersebut akan memudahkan ibu-ibu dalam belajar membuat tas, karena langsung praktek. Diharapkan setelah kegiatan pelatihan, membuat ibu-ibu desa Mlinjon semakin mandiri dan aktif dalam membuat karya dari sampah sintetis.

Proses semacam inilah yang diharapkan teman-teman KKN desa Mlinjon menjadi tahapan awal dalam memanfaatkan sampah agar memiliki nilai ekonomis tinggi. Lebih jauh bisa dijadikan kegiatan sampingan ibu-ibu desa Mlinjon untuk menghasilkan uang tambahan. Alhasil, menjadikan desa Mlinjon sebagai desa paling kreatif dan produktif dalam memanfaatkan sampah sentetis. Harapannya setelah produk dan karya jadi, segera membuat komunitas untuk mewadahi dan memfasilitasi, agar nantinya produk jadi berupa tas dari ibu-ibu desa Mlinjon bisa segera dipasarkan. Lebih lanjut, wadah tersebut bisa menjadi proses kaderasi yang melahirkan generasi kreatif dan inovatif. Serta mampu mewarnai Trenggalek kedepannya.

 

Desa Mlinjon

Dokumen Lampiran : Sampah For Life


Belum ada komentar atas artikel ini, silakan tuliskan dalam formulir berikut ini

Formulir Penulisan Komentar

Nama
Alamat e-mail
Komentar
 

Layanan Mandiri


Silakan datang / hubungi perangkat Desa untuk mendapatkan kode PIN Anda.

Masukkan NIK dan PIN!

Komentar Terkini

Media Sosial

Statistik Kunjungan

Hari ini
Kemarin
Jumlah pengunjung

Lokasi MLINJON

tampilkan dalam peta lebih besar