Mlinjon, Trenggalek – Dalam rangka mempererat tali silaturahmi serta berkontribusi nyata pada pendidikan karakter generasi muda, kelompok mahasiswa Universitas Negeri Malang yang tergabung dalam program UM Belajar Bersama Masyarakat (UM BBM) menggelar pendampingan pembelajaran di Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ). Kegiatan ini berlangsung secara rutin setiap hari Senin dan Rabu sore, mulai pukul 15.00 hingga 17.00 WIB, terhitung sejak 22 Juni hingga 22 Juli 2026.
Untuk mengoptimalkan proses pendampingan, seluruh mahasiswa UM BBM dibagi ke dalam tiga kelompok kecil yang disebar di tiga lokasi berbeda di Desa Mlinjon, yaitu Masjid Al-Muttaqin Pengkol, Masjid Tafakur Shodiq Soho, serta Masjid Al-Ikhlas Mlinjon yang juga mencakup Madrasah Diniyah (Madin) Nurul Islam. Di setiap lokasi, mahasiswa ikut serta mengajar mengaji, melatih hafalan surah-surah pendek, hingga mendampingi materi keagamaan dasar bagi para santri cilik.
Kehadiran mahasiswa di tengah-tengah kegiatan TPQ mendapat sambutan baik dari para ustadz dan ustadzah pengajar setempat. Ustadz Ilham, salah satu pengajar di Masjid Al-Muttaqin Pengkol—yang di lingkungan setempat juga akrab disebut TPA—mengatakan pendampingan ini menjadi ajang belajar bersama antara mahasiswa dan santri.
“Kita sama-sama belajar, dan mudah-mudahan ini bisa menjadi bekal untuk dikembangkan lagi, baik di kampus maupun di desa masing-masing. Mengurus anak-anak kecil itu jauh berbeda dengan di perkuliahan, jadi harus sabar,” kata Ilham.
Kesan positif juga dirasakan di Dusun Soho. Ustadzah Citra, pengajar di Masjid Tafakur Shodiq, mengungkapkan antusiasme para santri selama didampingi oleh tim mahasiswa.
“Mas dan mbaknya menyenangkan, sangat membantu, dan anak-anak jadi senang serta mendapat ilmu baru,” kata Citra.
Ustadzah Khusnul Khoriah dari Masjid Al-Ikhlas Mlinjon/Madin Nurul Islam turut menyampaikan terima kasih atas bantuan mahasiswa selama sebulan terakhir.
“Kami sangat terbantu dengan adanya adik-adik di sini. Semoga ilmu yang telah diajarkan kepada santri menjadi ilmu yang berkah dan bermanfaat,” kata Khusnul Khoriah.
Sepanjang sebulan pelaksanaan, mahasiswa UM BBM tercatat mengisi sepuluh kali pertemuan di masing-masing lokasi dengan materi yang disesuaikan kebutuhan santri. Pengalaman mengajar ini diharapkan dapat menjadi bekal karakter, kesabaran, dan kepekaan sosial bagi mahasiswa di masa mendatang.